
Dalam hidup ini, setiap peran menuntut adanya tanggung jawab. Tak ada peran yang bisa dijalani dengan sembarangan. Peran apapun yang diemban seseorang. Profesi apapun yang dipilih seseorang. Harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab.
Segala peran yang ada dalam hidup ini memang dihantarkan melalui takdir Allah. Bersama takdir-takdir itu manusia dengan sukarela memilih perannya masing-masing. Karena itu, seorang laki-laki yang memutuskan untuk menikah harus bertanggung jawab atas nafkah keluarganya. Seorang istri harus bertanggung jawab menjaga amanah suaminya. Seorang kyai harus bertanggung jawab terhadap fatwa-fatwanya. Seorang tentara harus bertanggun jawab terharap letusan senapannya. Seorang supir harus bertanggung jawab terhadap keselamatan penumpangnya. Seorang karyawan harus bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya yang untuk itu ia bersedia menandatangani kontrak kerja, begitu seterusnya.
Dari sinilah penghargaan atas sebuah peran. Seringkali bukan kemegahan peran itu, tetapi bagaimana peran itu dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Seorang penjaga sepatu jama’ah masjid yang berjuang melawan pencuri jauh lebih terhormat daripada seorang penguasa yang membiarkan rakyatnya tergenang banjir darah dan terkapar karena lapar.
Wajar, bila dalam Islam sikap amanah dan tanggung jawab menjadi sisi sebelah dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda: ”Tidak beriman siapa yang tidak amanah, dan tidak berislam siapa yang tidak menepati janji”. (HR. Ahmad). Pada kali lain beliau menjelaskan: “Yang dimaksud orang beriman adalah yang merasa aman terhadap orang itu, baik atas jiwanya maupun hartanya”. Orang beriman harus membuat orang lain merasa aman. Sebaliknya, orang yang membuat orang lain merasa tidak memiliki rasa tanggung jawab dan imannya dipertanyakan. Pada kesempatan lain, Rasulullah mengatakan, “Demi Allah tidaklah beriman, tidaklah beriman, yaitu orang yang tidak merasa aman tetangganya dari keculasannya”.(Muttafaq Alaih)
Menunaikan tanggng jawab dengan sebaik-baiknya merupakan pangkal keberuntungan. Allah berfirman: “Telah beruntunglah orang yag beriman”. Setelah itu Allah menyebut sifat-sifat orang beriman itu, diantaranya,”Yaitu yang memegang amanah dan janji-janjinya”. Bahkan hingga ke akhirat sikap amanah akan membantu pelakunya. Sperti diriwayatkan Imam Muslim bahwa nanti sikap amanah dan menyambung silaturrahmi akan berubah menjadi tanggak yang berdiri di sebelah kiri dan kanan jembatan di atas jahanam. Dengan tonggak itu seorang muslim yang memegang amanah dan menyambung silaturrahmi akan terbantu menyeberang. Wallahu ‘alam bisshowab……
Setiap pilihan memang ada konsekuensinya. Apakah seseorang yang mempunyai peran karena keterpaksaan juga harus bertanggung jawab? Misalnya si A pada awalnya tidak mau menjadi guru. Tapi karena orang tuanya mendesak sampai mengancam dengan suatu hal. Apakah dalam kasus ini si A juga harus bertanggung jawab, apabila pada suatu ketika dia melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma.
BalasHapus